(oleh Supriatna. Sulaeman)
Tak terasa beberapa bulan telah berlalu, sepertinya baru kemarin kita tercatat sebagai salah satu mahasiswa di Universitas BSI Bandung ini, kebersamaan yang begitu menyenangkan, kesibukan baru yang menuntut lebih banyak perhatian, serta tugas-tugas kuliah yang terkadang begitu merepotkan, seakan melarutkan kita kedalam sebuah adonan yang entah apa namanya, yang jelas putaran baling-baling waktu dengan tangkas telah mengaduk semua rutinitas kehidupan sehari-hari yang kita alami tanpa kita sadari.
Mungkin karena itu pulalah seringkali kita mendengar kata yang sepadan bahkan terkesan klise ketika kita menceritakan rentetan waktu yang telah lalu maka kata awalnya adalah “tak terasa”, sama persis dengan kata-kata saya diatas, tapi sayangnya sekarang ini kita tidak untuk mebahas itu semua tapi sesuatu yang berhubungan dengan itu, intinya saya ingin menceritakan sebuah perjalanan kami dalam mengikuti perkuliahan di Universitas kebanggan kami ini yang sekarang memasuki masa akhir semester.
Disatu sisi tentu kami merasa bersyukur, karena lagi-lagi tanpa terasa akhirnya kami bisa melewatinya dengan lancar bahkan buat saya secara pribadi sedikit memunculkan secercah harapan karena diawal jujur saya merasa kurang yakin bisa beradaptasi dengan kehidupan baru sebagai seorang mahasiswa mengingat pendidikan pormal yang pernah saya alami telah cukup lama saya lewati bahkan sudah lebih dari 10 tahun, sedangkan disisi lain saya pun berkerja, harapan itu muncul ketika minggu kemarin hasil nilai murni UTS kami telah keluar, tanpa bermaksud sombong, secara keseluruhan nilai-nilai yang saya dapat cukup memuaskan, walaupun mungkin tidak terlalu istimewa karena ternyata tidak ada satupun nilai A dimata kuliah saya, tapi alhamdulilah tidak ada satupun mata kuliah dengan bonot nilai C apalagi D, sebuah pencapaian yang menurut saya pribadi cukup membanggakan dan memberi secercah harapan agar bisa lebih semangat lagi untuk menjalani hari-hari selanjutnya (khususnya menyangkut perkuliahan).
Di sisi lain, bagi kami (yang kuliah atas biaya sendiri) entah kenapa akhir semester seakan menghadirkan bayang-bayang masalah baru yang akan saya (kami) hadapi nantinya, kalaulah boleh kami mengibaratkan, bagi kami habisnya semester ini berarti habis pulalah deposit (uang semesteran) yang telah kami bayarkan lunas diawal semester, dan itu berarti tidak lama lagi kami harus menyiapkan sejumlah dana untuk membayar uang semesteran kami selanjutnya.
Ini masalah bagi kami, terbukti dari perbincangan teman-teman kami baik yang langsung atau tidak langsung banyak diantara mereka yang mengeluhkan hal ini, dan jujur hal yang sama pun terjadi pada saya sendiri, banyak diantara kami yang seakan tidak siap untuk memenuhi sejumlah dana yang harus disiapkan dalam waktu dekat, disisi lain kebijakan pihak admin kampus yang mengharuskan setiap mahasiswanya untuk membayar lunas uang semesteran diawal semester seakan menjadi momok yang sangat menakutkan, bagaimana tidak! Dengan kebijakan tersebut seandainya ada mahasiswa yang ternyata pada saat yang telah ditentukan belum bisa membayar lunas uang semester, maka mahasiswa tersebut dilarang untuk mengikuti perkuliahan dan diwajibkan untuk mengajukan cuti kuliah selama 2 semester (1 Tahun), karena seandainya tidak mengujukan cuti maka mahasiswa tersebut dianggap mengundurkan diri DO.
Tentu hal diatas adalah fakta yang sangat ironi apabila itu harus terjadi pada kami, karena distu sisi saat ini kami telah begitu menikmati rutinitas baru kami ini, bahkan api semangat itu saat ini sudah mulai tersulut, yang kami takutkan seandainya tenyata masalah diatas menimpa kami, api semangat itu akan menjadi padam, karena menurut hemat kami 2 (dua) solusi diatas seperti “cuti kuliah apalagi sampai DO” tentu akan sangat berpengaruh pada sisi mental kami, sehingga kami merasa bahwa itu sama sekali bukan solusi terbaik.
Saya tidak bisa mengetahui secara pasti berapa orang atau persen kah mahasiswa dikampus kami yang memikirkan hal ini, akan tetapi saya berani menjamin bahwa banyak mahasiswa yang terbebani hal ini, bahkan distatus fb (facebook) teman-teman kami saya sering membaca beberapa status yang walaupun secara tidak langsung akan tetapi cukup mengisyaratkan tanggapan mereka akan hal ini, ini tentu sebuah gejala tidak baik yang terjadi dikampus kami, karena disatu sisi kami pun tidak lama lagi harus siap untuk menghadapi UAS (Ujian Akhir Semester) yang tentunya sangat membutuhkan perhatian lebih, dikhawatirkan dengan kondisi psikologis yang seperti sekarang ini banyak mahasiswa yang kemudian terpecah konsentrasinya, dan tentu saja ini hal yang tidak baik, baik bagi mahasiswa ataupun pihak Kampus sebagai penyelenggara.
Tentu saja harus ada sebuah pormula tepat untuk mengatasi hal ini, akan tetapi apa dan bagaimana pormula itu, jujur saya sendiri masih bingung! Tetapi saya sendiri saat ini memilih lebih memproritaskan untuk menyiapkan dana itu (uang semesteran) dulu sebagai prioritas pertama, mengingat masih ada sedikit waktu menjelang UAS, akan tetapi saya mempunyai target untuk memproritaskan hal ini sampai akhir bulan ini atau minimal sampai menjelang UAS, nantinya selesai atau tidak selesai saya akan memproritaskan UAS diatas masalah ini, karena saya tidak ingin konsentrasi menghadapi UAS terbagi karena urusan ini (uang semester).
Nantinya tentu ada 2 (dua) kemungkinan yaitu antara berhasil dan tidak bisa berhasil, pada saat berhasil tentu itu bukan masalah, akan tetapi seandainya tidak pun kemungkinan besar saya hanya bisa berdo’a agar pihak Kampus member sedikit kelonggaran kepada kami dalam hal membayar uang semester ini atau dengan kata lain memperbolehkan mencicil.
Disisi lain tentu ini menjadi sebuah pelajaran berharga buat kita (yang kuliah atas biaya sendiri) untuk semester-semester selanjutnya, diharapkan untuk semester-semester selanjutnya kita bisa lebih mempersiapkan semuanya lebih awal, agar tidak menjadi beban seperti sekarang ini, walaupun seandainya ternyata akhirnya ada keajaiban sehingga kita bisa keluar dari masalah ini dengan solusi terbaik untuk kita, misalnya pihak kampus mengerti akan kesulitan kita dan memberikan kelonggaran untuk mencicil, tapi tentunya kita harus ingat kalau semua itu adalah “keajaiban” dan tentu sangat kecil kemunkinan terjadi lagi, walaupun bukan hal yang mustahil tapi rasanya tidak baik apabila kita terlalu berharap pada keajaiban.
Solusi diatas adalah murni solusi pribadi, tanpa bermaksud mempengaruhi atau mensehati, dan jujur secara pribadi saya pun tidak bisa menjamin bahwa itu adalah solusi terbaik, saya percaya setiap orang mempunyai cara dan gaya yang berbeda dalam menghadapi masalahnya.
semoga bermanfaat & terimakasih
Categories:
OPINI PREE