Kompas Kampus


Tampilkan postingan dengan label OPINI PREE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OPINI PREE. Tampilkan semua postingan

Yang terhormat saudara penanggung jawab rubrik Kata Sandi di Kom-Kamp Blogspot.com.
Setelah membaca tulisan saudara yang berjudul "Penggelapan Dana Impor Kereta Jepang", rasanya saya perlu mengklaripikasi isi tulisan saudara yang terkesan memojokan saya:
1. Soal penggelapan dana senilai Rp1,5 triliun untuk pengadaan 15 unit rangkaian KRL, jelas sebuah tuduhan ngawur dan tidak masuk akal, bagaimana saudara bisa menyimpulkan bahwa dana itu telah saya gelapkan, mana bukti-bukti yang saudara punya, perlu saudara ketahui, dana sebesar Rp 1,5 triliun itu sebelumnya telah dibahas dalam rapat anggaran tahun 2011 yang melibatkan banyak pihak, bahkan pihak inportir dari jepang, dan nilai itu sudah disepakati oleh kedua belah pihak, jadi jelas saya sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk konkalingkong dengan pihak inportir dibelakang.
2. Dana senilai Rp1,5 triliun yang dinilai tidak masuk akal.
Perlu saudara ketahui, urusan nominal harga KRL perunit itu menjadi wewenang pihak inportir, dalam hal ini saya hanya bersifat sebagai perantara, mengingat saya cukup mengenal beberapa inportir, sehingga pihak direksi menunjuk saya sebagai penghubung, bukan saya yang mengajukan mereka (pihak importir) atau saya yang mengajukan diri saya sendiri, dan sebelumnya telah melalui beberapa tahap uji kelayakan, jadi jelas saya tidak pernah ikut campur terlalu jauh dalam menetukan siapa yang pantas mendapatkan tender tersebut.
3. Perlu saya klaripikasi, bahwa selama ini kita hanya mengimport kereta-kereta bekas saja dari jepang, sehingga harganya pun relatip lebih murah, akan tetapi kali ini kita benar-benar mendatangkan kereta yang benar-benar baru sehingga otomatis harganya pun sedikit lebih mahal, tapi sejauh ini itu masih wajar-wajar saja, karena sebelumnya pihak kereta api pun telah menguji layak atau tidaknya harga diatas
    Dengan adanya pemberitaan saudara, jelas saya merasa dirugikan, secara langsung anda telah melakukan pencemaran nama baik saya, untuk itu saya menuntut saudara untuk mengembalikan nama baik saya, selanjutnya meralat semua pemberitaan yang telah saudara tulis, kemudian mengingat dampak pemberitaan yang telah anda buat begitu luas maka dengan ini saya menuntut saudara untuk menyatakan permintaan maaf terhadap saya yang dimuat diseluruh media (baik cetak maupun elektronik) selama 7 hari berturut-turut minimal 1 (satu) halaman penuh (untuk media cetak), selanjutnya saya menuntut kom-kamp blogspot.com sebagai institusi yang bertanggung jawab atas dimuatnya berita tentang saya sebesar Rp 1 triliun.


ttd

Supriatna. Sulaeman
Read More …

Promosi SMM Picu Aksi Buruh

Cimahi – Demo buruh kembali terjadi lagi, kali ini buruh pabrik PT Dewa Sutratex melakukan aksinya dengan melakukan mogok kerja masal, sabtu 14/01 kemarin tepat jam 09:00 semua karyawan pabrik tersebut serempak menghentikan semua aktipitas kerjanya, untuk kemudian keluar dari ruangan dan menggelar aksi damai dilapangan yang berada diarea halaman pabrik.
            Dalam aksi damainya kali ini buruh pabrik PT Dewa Sutratek memprotes kebijakan manajement pabrik atas dipromosikannya salah seorang teman mereka yang berinisial SMM menjadi salah satu kepala bagian dipabrik tersebut, Asep (25 Thn) yang merupakan salah satu kordinator aksi damai itu menyatakan bahwa promosi itu syarat dengan KKN dan sangat aneh, menurutnya SMM sama sekali tidak layak untuk dipromosi, mengingat SMM baru beberapa bulan saja terdaftar sebagai karyawan dipabrik itu, sedangkan dari sisi pendidikan pun SMM hanya tamatan SMA sama seperti dirinya, lanjut Asep.
            Hany, salah satu penggagas aksi demo tersebut menambahkan, SMM yang kemudian diketahui bernama lengkap Sandy Muhamad ma’ruf, praktis hanya merasakan satu bulan saja sebagai seorang operator salah satu mesin dipabrik yang bergerak dibidang textile tersebut, karena tidak lama setelah itu dia dipromosi menjadi seorang kepala regu, semasa menjadi kepala regu, lanjut Hany, Sandy yang dulunya pendiam mulai menampakan sifat aslinya, dia dikenal sebagai salah satu kepala regu yang bengis terhadap anak buahnya, bahkan sifat kurang ajarnya pun mulai muncul, terutama pada karyawan perempuan, adakalanya beberapa anak buah perempuannya mengadu pernah merasa dilecehkan, hal yang paling membuat resah pada masa kepempinan Sandy yaitu sikafnya yang sering memotong uang lemburan anak buahnya tanpa alasan yang jelas, padahal itu jelas merupakan hak buruh, dan masih banyak lagi sikaf dia yang lainnya yang sangat meresahkan dan merugikan anak buahnya, terang Hany yang ternyata merupakan salah satu bekas atasan Sandy sewaktu Sandy menjadi operator.
            Munawar (40 thn), salah satu pendemo yang mengaku telah bekerja pada perusahaan tersebut selama hampir 20 thn menambahkan, bahwa memang sebenarnya perusahaan mempunyai hak sepenuhnya untuk menempatkan siapapun dalam posisi tersebut, akan tetapi sebaiknya perusahaan pun menilai orang itu dari track recordnya, Munawarpun menambahkan, dirinya sama sekali tidak merasa iri akan nasib baik sandy, akan tetapi dirinya hanya mau perusahaan untuk lebih peka dan mendengar keluhan buruhnya, karena menurutnya mustahil pihak perusahaan tidak mengetahuinya, karena dari awalpun sebenarnya sudah banyak suara sumbang yang menceritakan tentang siapa Sandy, kami sudah sering mengadukan hal ini pada pihak manajement akan tetapi jawaban yang kami terima ternyata seperti ini, orang itu bukannya diberi sangsi malah dipromosi, seru Munawar berapi-api.
            Pihak buruh mengaskan bahwa kalau seandainya perusahaan bersikukuh untuk tetap mempertahankan Sandy, maka mereka akan terus melakukan aksi mogok kerja, bahkan mereka menyatakan siap untuk mengajukan permohonan mengundurkan diri secara masal apabila keinginan mereka tidak bisa dipenuhi oleh pihak perusahaan, sampai berita ini diturunkan, belum terjadi kesepakatan resmi dari kedua belah pihak (buruh dan pihak perusahaan), sedangkan Sandy sebagai pemicu aksi ini menghilang entah kemana, sampai berita ini diturunkan belum ada pernyataan resmi dari yang bersangkutan.
Read More …

(Oleh Supriatna. Sulaeman)
Seakan sudah menjadi sebuah tradisi setiap malam menjelang pergantian tahun selalu dirayakan dengan berbagai bentuk acara perayaan, sehingga terkadang terasa begitu meriah bahkan lebih meriah dari perayaan-perayaan hari raya keagamaan, bagaimana tidak, pada malam pergantian tahun semua golongan dari berbagai lapisan masyarakat seakan turut larut dalam berbagai macam perayaan menyambut tahun baru tanpa membedakan suku ataupun agama, walaupun mungkin beberapa diantaranya memilih merayakannya dengan hanya berkumpul dirumah bersama keluarga besar dan menikmati hiburan dengan menonton acara televisi yang sangaja disajikan oleh beberapa stasiun tv dalam rangka menyambut malam pergantian tahun, hal yang sama mungkin tidak kita temukan pada perayaan hari raya keagamaan seperti hari raya Idul fitri,Natal & hari raya keagamaan lainnya.
Sebuah acara yang awalnya hanya dirayakan beberapa kelompok orang saja, tapi seiring tahun yang terus berganti dewasa ini perayaan ini seakan sudah menjadi bagian yang tidak boleh terlewatkan pada setiap tahunnya, mungkin hampir menjadi sebuah tradisi yang ironinya ternyata tradisi itu kita serap dari tradisi barat (luar), tanpa bermaksud memberikan tanggapan pada salah atau benarnya tradisi itu yang jelas diakui atau tidak ternyata adat ketimuran tidak pernah mengenal tradisi seperti itu.
Ada sedikit yang berbeda ketika kita membicarakan datangnya tahun 2012 ini, kalau seandainya boleh saya mengibaratkan tahun ini sebagai sebuah tempat, maka saya akan menyebut tahun 2012 ini sebagai sebuah tempat yang misterius dan hari ini akhirnya kita sampai digerbangnya, walaupun memang pada dasarnya semua hari esok itu adalah mistery karena sebenarnya tidak satupun diantara kita yang tahu apa yang akan terjadi dengan hari esok, akan tetapi misteriusnya tahun 2012 ini menjadi sedikit berbeda karena jauh-jauh hari sebelum datangnya tahun ini (2012) kita telah disuguhi dengan berbagai cerita yang mengundang banyak kontropersi mengenai apa yang akan terjadi ditahun ini.
Sedikit mengingatkan kembali tentang berbagai cerita yang ada dibalik tahun ini (2012), beberapa peramal kenamaan meramalkan bahwa ditahun ini akan terjadi sebuah kejadian yang maha dahsyat, bahkan beberapa diantaranya meyakini bahwa tahun ini menjadi tahun terakhir kita tinggal dibumi tercinta ini, atau dengan kata lain ditahun ini akan terjadi Kiamat, beberapa peramal yang mengaku dirinya hebat itu mengatakan bahwa biasanya mereka bisa meramalkan (melihat) apa yang akan terjadi 2 atau 3 tahun kedepan bahkan lebih, tapi itu tidak terjadi pada tahun ini, mereka mengaku tidak bisa menembus sampai tahun 2013 dan semuanya seakan tertutup sampai 2012, mungkin karena hal ini pula mereka menyimpulkan dan menyatakan hal diatas (tentang hari akhir).
Tidak cukup dengan itu saja, beberapa bulan sebelum datangnya tahun 2012 sebuah filmpun diluncurkan yang isinyapun menceritakan tentang kejadian yang akan terjadi ditahun 2012 ini, terlepas dari apa sebenarnya maksud dan tujuan film ini dibuat yang jelas alur cerita yang terjadi difilm itu seakan mendukung bahkan mempertegas tentang pernyataan diatas, walaupun secara pribadi saya berpendapat bahwa film itu bukan film yang menceritakan tetang hari akhir (kiamat) tetapi lebih bercerita tentang bencana yang maha dahsyat, mengingat ternyata di ending film masih ada beberapa orang yang selamat, dan hal ini jelas sangat bertentangan dengan yang disebut hari akhir (kimamat), fakta lainnya yang mendukung (setuju) dengan peryataan 2012 sebagai tahun akhir dunia adalah keyakinan sebuah suku di Mexico, mereka meyakini bahwa kiamat akan terjadi pada tanggal 12-12-2012 bahkan mereka dengan sengaja membuat sebuah jam dengan ukuran besar yang ditempatkan ditengah kota yang akan menghitung mundur sampai waktu yang telah mereka yakini sebagai harii akhir (kiamat) yaitu tanggal 12-12-2012, dan masih banyak lagi pernyataan-pernyataan serupa yang tidak mungkin saya bahas semuanya disini, akan tetapi seandainya kita penasaran kita akan dengan sangat mudah menemukannya, cukup dengan searcing (gogleing) di internet maka akan muncul banyak sekali artikel, berita, kajian dsb yang menceritakan hal ini, dengan berbagai bentuk kajian dan alasan.
Pernyataan diatas tentu saja mengundang banyak kontroversi, walaupun pada akhirnya memang lebih banyak yang menentang dari pada yang mendukung, dan dari pengalaman saya bertanya pada orang-orang yang saya bisa tanya ternyata tidak ada satupun yang menyatakan percaya (setuju) akan hal itu, sehingga saya merasa percaya kalaupun saya melakukan survey kepada semua penduduk bumi ini, saya yakin bahwa hasilnya akan lebih banyak orang yang tidak percaya daripada orang yang percaya, dan sejujurnya secara pribadi sayapun tidak mempercayainya.
Ada berbagai macam alasan saya tidak mempercayai hal diatas, pertama keyakinan yang saya anut memang mewajibkan kita untuk percaya akan datangnya hari akhir (kiamat), akan tetapi kapan saat itu akan tiba? Itu sama sekali diluar kehendak dan kemampuan kita, itu adalah sebagian dari rahasia dan kuasaNya, yang kedua, saya bukan tipe orang yang percaya akan ramalan, saya sangat yakin dan percaya bahwa tidak ada satu orangpun yang bisa melihat hari esok, tidak kita tidak juga orang lain, yang kita bisa lakukan hanya berusaha semaksimal mungkin hari ini, untuk selanjutnya kita hanya bisa berharap sesuatu yang terbaik akan terjadi hari esok, untuk itu sebaik-baiknya usaha adalah ketika kita bisa meluruskan niat, kemudian memaksimalkan usaha (ikhtiar), jangan lupa sertai dengan do’a dan tawaqal.
Menyikapi akan penomenalnya pernyataan tentang akan datangnya hari akhir ditahun ini, kontroversi, yang kemudian menimbulkan penetangan akan pernyataan itu, memancing saya untuk sedikit menuliskan sebuah renungan awal tahun yang mudah-mudahan berguna terutama untuk saya sendiri.
Setelah saya mencoba mencari titik permasalahan dan mencoba menarik sebuah garis merah mengenai hal yang saya paparkan diatas, ternyata saya menemukan satu kata, dan ternyata itu adalah “Hari Akhir”, terus terang pernyataan diatas memang menimbulkan banyak pertanyaan dihati saya, akan tetapi ternyata ekses (feed back) nya pun ternyata kembali menimbulkan sebuah tanda tanya yang sangat besar, setidaknya ada 2 pertanyaan saya tentang hal itu, yang pertama “Kenapa orang bisa percaya?”, dan kedua “Kenapa orang tidak percaya?”.
Saya tidak akan membahas “Kenapa orang bisa percaya?”, karena saya memang bukan orang yang termasuk golongan itu, dan sampai sekarang saya tak habis pikir kenapa orang bisa seperti itu (percaya)?, tetapi yang menarik adalah ketika saya bertanya “Kenapa saya/orang lain tidak percaya?”, karena ketika saya menemukakan jawaban seperti apa yang telah saya tuliskan diatas, yang timbul adalah pertanyaan baru, “Apakah benar hanya itu saja alasannya?”.
Munculnya pertanyaan kedua tadi bukan untuk menyangkal jawaban diatas apalagi menganggap bahwa jawaban diatas itu salah, akan tetapi lebih bertanya tentang keadaan hati kita saat kita menemukan jawaban diatas, mari kita renungkan kembali, apakah memang benar jawaban itu muncul karena didasari oleh satu keyakinan yang memang sudah tertanam mendalam dihati kita, ataukah hanya merupakan sebuah alibi besar yang berusaha kita hadirkan untuk melawan pernyataan tentang datangnya hari akhir, karena disisi lain sebenarnya kita tidak menginginkan hari itu datang saat ini dengan berbagai macam alasan, baik itu merasa tidak siap atau karena kita terlalu cinta pada segala hal yang sifatnya duniawi.
Dengan pertanyaan kedua tadi, maka ternyata orang yang tidak percayapun terbagi menjadi 2 (dua) golongan, golongan pertama adalah orang-orang yang menjawabnya dengan penuh keyakinan yang didasari oleh iman yang telah terpatri dalam hatinya, didalam hati golongan orang-orang ini memang telah tertanam keimanan diatas jauh sebelum kontroversi tentang hari akhir pada tahun ini ada, seperti telah kita ketahui Islam mengajarkan pada semua umatnya akan Rukun Iman, yang salah satu diantaranya adalah “Iman (percaya) akan datangnya hari akhir” tetapi tidak hanya itu saja, orang-orang yang masuk digolongan pertama meyakini soal kapan waktunya itu datang, semuanya masih rahasia dan itu berarti bisa kapanpun, dengan kata lain orang yang masuk dalam kelompok ini memang tidak percaya akan statement bahwa hari akhir akan datang pada tanggal 12-12-2012, akan tetapi apabila ternyata Tuhan menghendaki datangnya lebih awalpun mereka telah siap dan bukan masalah kapanpun itu, karena mereka yakin semua itu terjadi atas kehendakNya, dan tidak ada hal yang tidak munkin bagiNya.
Tentu hal diatas akan sangat berbeda apabila ternyata ketidak percayaan kita akan statement akan datangnya hari akhir ditahun ini didasari alasan yang kedua, kehidupan dan gemerlapnya duniawi membuat kita lupa bahwa semuanya itu adalah sementara dan hanya berupa titipan dari sang Maha punya, kecintaan kita terhadap titipanNya membuat kita lupa bahwa sebenarnya tidak ada satupun didunia ini yang benar-benar milik kita, begitupun dengan kehidupan dan bumi yang kita tempati bersama ini, karena ketika Sang Kuasa mengambilnya tidak ada satupun diantara kita yang bisa mempertahankannya, sikap kita untuk tidak mempercayai satatement diatas sesungguhnya hanya didasari atas ketidak relaan kita untuk lepas dari kehidupan dan gemerlapnya duniawi, jawaban kita sesungguhnya menunjukan kesombongan kita yang seakan yakin bisa hidup beberapa tahun lagi (bisa melewati 2012 bahkan mungkin berberapa puluh tahun lagi), ini jelas sebuah keyakinan yang sangat keliru.
Terlepas dari benar atau tidaknya statement diatas, hari akhirkah atau hanya berupa sebuah bencana dahsyat saja, secara pribadi saya menganggap itu tidak penting lagi, karena seandainya kita menyadari bahwa sesungguhnya masing-masing kita mempunyai batasan untuk hidup didunia ini, ini yang kemudian kita sebut dengan kematian, dan sesungguhnya kematian itupun sebenarnya merupakan salah satu kiamat (hari akhir) yakni kiamat sugra (kecil), sama seperti kiamat kubra kematianpun bersifat pasti dan rahasia, sedikit mengingatkan kembali! Salah satu paranormal yang meramalkan akan terjadi sesuatu ditahun ini adalah Mama Laurent, pada saat  itu dia disebuah program salah satu tv swasta pernah menyatakan bahwa ditahun 2012 akan terjadi sebuah kejadian luar biasa, dan beliau mengaku tidak bisa menembus sampai 2013 karena semuanya seperti tertutup sampai tahun 2012, dan apa yang terjadi dengan beliau kita tentu sudah sama-sama mengetahuinya, karena ternyata beliau tutup usia (meninggal) sebelum 2012, tentu menjadi sebuah ironi apabila kita meributkan tentang sesuatu hal yang akan terjadi lusa sementara kita tidak mengetahui apakah usia kita bisa sampai hari esok atau tidak?
Sebelum dan sesudahnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya! Perlu saya luruskan bahwa sebenarnya tulisan ini saya buat bukan untuk menilai salah dan benar, baik dan tidak baik, apalagi untuk menghakimi apapun dan siapapun, akan tetapi ini saya tulis hanya untuk bahan renungan semata khususnya untuk diri saya sendiri, karena masih banyak diantara kita bahkan jujur mungkin salah satunya adalah saya, yang terkadang menjadikan sesuatau itu hanya sebuah tameng, perlindungan agar kita bisa sembunyi dibaliknya, dan sesuatu itu diantaranya adalah Undang-Undang, Hadist, bahkan alqur’an, tentu baik  apabila kita mencari solusi dari masalah kita dengan mengembalikannya kepada alqur’an sebagai kitab suci kita semua (muslim), karena sesungguhnya apabila kita kaji lebih dalam tidak ada satupun yang terlewatkan dalam alqur’an, akan tetapi tidak bijak rasanya apabila kita hanya memilah beberapa ayat saja yang sekiranya menguntungkan kita, sementara yang lainnya kita abaikan bahkan terkesan kita sembunyikan.
Sebuah pepatah mengatakan “Apabila kita berbicara tentang hal duniawi, berpikirlah seolah-olah kita akan hidup seribu tahun lagi, tetapi ketika kita berbicara tentang akhirat maka berpikirlah seolah-olah kita akan meninggal besok”, maafkan seandainya saya salah, akan tetapi menurut saya berbicara tentang hari akhir kaitannya lebih dekat dengan akhirat ketimbang duniawi, untuk itu pola pikirpun sebaiknya kita sesuaikan. Terakhir saya ingin sedikit mengajak dan menghimbau, sebaiknya biarkan saja hari esok menjadi sebuah misteri tanpa harus kita ketahui jawabannya sekarang, disisi lain ada baiknya kita mulai mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi dihari itu sekarang, tanamkan keimanan yang mendalam, mengakar dan menjalar (mengalir) kesetiap organ tubuh dan darah kita, luruskan niat agar mempunyai ketulusan hanya karena allah semata, maksimalkan usaha, sertai dengan do’a, selebihnya bertawaqalah dengan hati yang ikhlas, insya allah kita akan mendapatkan yang terbaik.
Amien….!
Read More …

(Oleh Supriatana. Sulaeman)
Kehidupan selalu menghadirkan berbagai kejutan yang sangat tak teduga, hari demi hari, minggu, bahkan tahun demi tahun selalu saja dilengkapi dengan berbagai macam kejadian yang seakan memberi warna baru, berbicara soal warna, mungkin ingatan kita langsung tertuju pada aneka warna yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari-hari, seperti merah, kuning, hijau, biru dan seterusnya, agak menarik ketika kita membicarakan tentang warna, karena salah satu diantaranya adalah hitam dan putih, biasanya kita akan menyebut sesuatu itu berwarna apabila terdapat 2 (dua) unsur atau lebih warna yang ada didalam sesuatu itu, tetapi menjadi sedikit berbeda ketika 2 (dua) unsur itu hanya hitam dan putih, karena ternyata ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa hitam & putih itu sebenarnya bukan sebuah warna, hitam & putih biasanya diidentikan dengan sesuatu yang sangat berbeda bahkan terkesan berlawanan satu sama lainnya, kemudian ketika kita coba kaitkan warna yang termasuk didalamnya hitam & putih tadi dengan kehidupan sehari-hari, hal yang tadi (berlawanan) tentu seringkali kita temukan, namun kemudian jika seandainya dua hal yang berlawanan itu kita identikan dengan warna hitam & putih tadi, sepertinya saya termasuk orang yang tidak setuju kalau seandainya hal itu (hitam & putih) bukan sebuah warna.
Hal yang berlawanan seperti suka & duka, mengis & tertawa dan seterusnya, justru telah memberikan warna yang indah dalam kehidupan kita, selain itu kehidupan juga terkadang menghadirkan sesuatu yang bebeda, akan tetapi tidak berlawanan, misalnya, dalam kehidupan terkadang kita menemukan 2 (dua) orang yang sama-sama sedang bersedih, apakah kemudian kita akan menyimpulkan bahwa 2 (dua) orang tadi itu sama? Tentu saja tidak, karena mungkin saja mereka menangis (bersedih) karena alasan yang berbeda, ini yang mungkin kemudian kita ibaratkan dengan warna yang lain seperti merah, biru, dan seterusnya,
Kehidupan apabila kita ibaratkan sebuah kanvas pada awalnya hanya berupa kanvas putih polos, kemudian seiring waktu, mulai banyak warna kita tuangkan disana, awalnya mungkin tidak beraturan, bahkan kita sendiri menganggap hal itu tidak begitu berarti, akan tetapi ternyata apabila kita coba melihat dan merenungkannya kembali, mengingat warna demi warna yang tanpa sadar telah tertuang dalam kanvas itu, sering tanpa sadar terkadang kita dibuat menangis, tersenyum dan berbagai macam bentuk ekspresi kita keluarkan, ini jelas membuktikan bahwa warna-warna itu begitu indah dan begitu memberikan arti pada kehidupan kita, bahkan lebih indah dari sebuah lukisan tokoh siapapun yang ada dimuka bumi ini.
Tahun 2011 kemarin saya dan beberapa teman saya kembali diberikan sebuah kanvas putih yang tentunya selain kanvas pribadi yang telah tertuang berbagai macam warna sebelumnya, kanvas itu sebuah sisi lain dari kehidupan kami, selain memberikan kanvas baru sisi lain kehidupan kami inipun memberikan beraneka warna baru, hampir serupa tapi berbeda dengan warna pribadi kami sebelumnya, dan ini menimbulkan kehidupan kamipun menjadi lebih berwarna dari sebelumnya.
Kanvas dan sisi lain kehidupan itu adalah kehidupan dan suasana kampus, sama seperti sebelumnya, awalnya kanvas itupun kosong (putih polos), akan tetapi seiring waktu kini kanvas itupun telah tertuang beraneka ragam warna, ada warna kekeluargaan, ada warna kasih sayang, bahkan pertentangan dan duka, memang belum terlalu lama kami berada dalam satu lingkungan, akan tetapi banyaknya cerita dan warna yang telah kami tuangkan itu seakan telah membangun sebuah bangunan yang kokoh, jujur secara pribadi saya mengakui seakan menemukan sebuah keluarga baru saat berkumpul dengan mereka, dan ternyata penyataan serupa itupun tidak hanya keluar dari saya sendiri, teman-teman yang lain pun merasakan hal yang sama.
Dipenghujung semester ini, kehidupan kampus menghadirkan sebuah kejutan, terutama untuk saya secara pribadi, sebuah kejutan yang menimbulkan ekses haru bagi kami, karena ternyata untuk semester depan setidaknya ada 3 (tiga) teman kami yang tidak bisa bersama-sama kami lagi, secara pribadi saya yang merupakan salah satu mahasiswa tertua dikelas kami terus terang merasa tidak ikhlas, karena mereka telah begitu dekat baik secara teman maupun secara personal, sehingga saya telah menganggap mereka seperti adik dan keluarga saya sendiri, sedangkan disisi lain saya menganggap bahwa dengan hilang nya mereka, maka itu berarti saya pun telah kehilangan beberapa warna dalam hidup saya, padahal warna itu begitu berarti bagi kehidupan saya secara pribadi.
Namun setelah saya renungkan kembali ternyata saya menemukan sesuatu tentang kejutan diatas, perasaan tidak ikhlas saya yang sepintas seolah menggambarkan seorang kakak yang baik, ternyata salah besar, karena disadari atau tidak ternyata perasaan itu timbul dari rasa keegoisan saya sendiri, dan jelas bukan seseorang yang baik apabila dia hanya berpikir dari sisinya sendiri.
Mereka memutuskan berpisah dari kita dengan berbagai alasan yang berbeda, namun yang jelas merekapun mengakui bahwa hal itu berat juga bagi mereka, akan tetapi keputusan itu harus diambil dan sudah diambil, rasanya tidak bijak seandainya kita terlalu ikut campur pada keputusan mereka, karena itu merupakan hak mereka, dan saya berpendapat bahwa tidak ada satupun orang yang tahu apa yang terbaik bagi kita selain kita sendiri, sebagai seorang teman, sahabat ataupun kakak rasanya akan lebih bijak bila disaat seperti ini kita lebih bisa membesarkan hati mereka melalui dukungan dan do’a agar mereka mendapatkan yang terbaik atas keputusan yang mereka ambil.
Perlu kita ketahui, kehidupan selain memberikan warna juga selalu memberikan pilihan, beberapa kali kita pun sering berada dalam situasi seperti itu, dan disaat itu mau tidak mau kita harus memilih, bukan tentang sesuatu yang benar dan salah, baik dan tidak baik, melainkan tentang keyakinan, setiap pilihan memang ada konsekwensinya, akan tetapi apabila kita telah memutuskannya dengan penuh keyakinan maka insya allah kita akan mendapatkan energy lebih untuk menghadapinya, untuk hari esok, sesungguhnya tidak ada satupun diantara kita yang mengetahuinya, untuk itu mungkin akan lebih berarti apabila kita bisa lebih ikhlas untuk melepaskan kepergian mereka dan saling mendo’akan yang terbaik bagi kita semua, daripada meratapinya.
“Selamat jalan adik-adik ku, semoga yang terbaik akan bersama-sama kita selamanya, teruslah mencari dan mencari lagi, karena sesungguhnya sukses dan rejeki berada ditempat-tempat yang belum kita ketahui!”
Read More …

(oleh Supriatna. Sulaeman)
Tak terasa beberapa bulan telah berlalu, sepertinya baru kemarin kita tercatat sebagai salah satu mahasiswa di Universitas BSI Bandung ini, kebersamaan yang begitu menyenangkan, kesibukan baru yang menuntut lebih banyak perhatian, serta tugas-tugas kuliah yang terkadang begitu merepotkan, seakan melarutkan kita kedalam sebuah adonan yang entah apa namanya, yang jelas putaran baling-baling waktu dengan tangkas telah mengaduk semua rutinitas kehidupan sehari-hari yang kita alami tanpa kita sadari.
Mungkin karena itu pulalah seringkali kita mendengar kata yang sepadan bahkan terkesan klise ketika kita menceritakan rentetan waktu yang telah lalu maka kata awalnya adalah “tak terasa”, sama persis dengan kata-kata saya diatas, tapi sayangnya sekarang ini kita tidak  untuk mebahas itu semua tapi sesuatu yang berhubungan dengan itu, intinya saya ingin menceritakan sebuah perjalanan kami dalam mengikuti perkuliahan di Universitas kebanggan kami ini yang sekarang memasuki masa akhir semester.
Disatu sisi tentu kami merasa bersyukur, karena lagi-lagi tanpa terasa akhirnya kami bisa melewatinya dengan lancar bahkan buat saya secara pribadi sedikit memunculkan secercah harapan karena diawal jujur saya merasa kurang yakin bisa beradaptasi dengan kehidupan baru sebagai seorang mahasiswa mengingat pendidikan pormal yang pernah saya alami telah cukup lama saya lewati bahkan sudah lebih dari 10 tahun, sedangkan disisi lain saya pun berkerja, harapan itu muncul ketika minggu kemarin hasil nilai murni UTS kami telah keluar, tanpa bermaksud sombong, secara keseluruhan nilai-nilai yang saya dapat cukup memuaskan, walaupun mungkin tidak terlalu istimewa karena ternyata tidak ada satupun nilai A dimata kuliah saya, tapi alhamdulilah tidak ada satupun mata kuliah dengan bonot nilai C apalagi D, sebuah pencapaian yang menurut saya pribadi cukup membanggakan dan memberi secercah harapan agar bisa lebih semangat lagi untuk menjalani hari-hari selanjutnya (khususnya menyangkut perkuliahan).
Di sisi lain, bagi kami (yang kuliah atas biaya sendiri) entah kenapa akhir semester seakan menghadirkan bayang-bayang masalah baru yang akan saya (kami) hadapi nantinya, kalaulah boleh kami mengibaratkan, bagi kami habisnya semester ini berarti habis pulalah deposit (uang semesteran) yang telah kami bayarkan lunas diawal semester, dan itu berarti tidak lama lagi kami harus menyiapkan sejumlah dana untuk membayar uang semesteran kami selanjutnya.
Ini masalah bagi kami, terbukti dari perbincangan teman-teman kami baik yang langsung atau tidak langsung banyak diantara mereka yang mengeluhkan hal ini, dan jujur hal yang sama pun terjadi pada saya sendiri, banyak diantara kami yang seakan tidak siap untuk memenuhi sejumlah dana yang harus disiapkan  dalam waktu dekat, disisi lain kebijakan pihak admin kampus yang mengharuskan setiap mahasiswanya untuk membayar lunas uang semesteran diawal semester seakan menjadi momok yang sangat menakutkan, bagaimana tidak! Dengan kebijakan tersebut seandainya ada mahasiswa yang ternyata pada saat yang telah ditentukan  belum bisa membayar lunas uang semester, maka mahasiswa tersebut dilarang untuk mengikuti perkuliahan dan diwajibkan untuk mengajukan cuti kuliah selama 2 semester (1 Tahun), karena seandainya tidak mengujukan cuti maka mahasiswa tersebut dianggap mengundurkan diri DO.
Tentu hal diatas adalah fakta yang sangat ironi apabila itu harus terjadi pada kami, karena distu sisi saat ini kami telah begitu menikmati rutinitas baru kami ini, bahkan api semangat itu saat ini sudah mulai tersulut, yang kami takutkan seandainya tenyata masalah diatas menimpa kami, api semangat itu akan menjadi padam, karena menurut hemat kami 2 (dua) solusi diatas seperti “cuti kuliah apalagi sampai DO” tentu akan sangat berpengaruh pada sisi mental kami, sehingga kami merasa bahwa itu sama sekali bukan solusi terbaik.
Saya tidak bisa mengetahui secara pasti berapa orang atau persen kah mahasiswa dikampus kami yang memikirkan hal ini, akan tetapi saya berani menjamin bahwa banyak mahasiswa yang terbebani hal ini, bahkan distatus fb (facebook) teman-teman kami saya sering membaca beberapa status yang walaupun secara tidak langsung akan tetapi cukup mengisyaratkan tanggapan mereka akan hal ini, ini tentu sebuah gejala tidak baik yang terjadi dikampus kami, karena disatu sisi kami pun tidak lama lagi harus siap untuk menghadapi UAS (Ujian Akhir Semester) yang tentunya sangat membutuhkan perhatian lebih, dikhawatirkan dengan kondisi psikologis yang seperti sekarang ini banyak mahasiswa yang kemudian terpecah konsentrasinya, dan tentu saja ini hal yang tidak baik, baik bagi mahasiswa ataupun pihak Kampus sebagai penyelenggara.
Tentu saja harus ada sebuah pormula tepat untuk mengatasi hal ini, akan tetapi apa dan bagaimana pormula itu, jujur saya sendiri masih bingung! Tetapi saya sendiri saat ini memilih lebih memproritaskan untuk menyiapkan dana itu (uang semesteran) dulu sebagai prioritas pertama, mengingat masih ada sedikit waktu menjelang UAS, akan tetapi saya mempunyai target untuk memproritaskan hal ini sampai akhir bulan ini atau minimal sampai menjelang UAS, nantinya selesai atau tidak selesai saya akan memproritaskan UAS diatas masalah ini, karena saya tidak ingin konsentrasi menghadapi UAS terbagi karena urusan ini (uang semester).
Nantinya tentu ada 2 (dua) kemungkinan yaitu antara berhasil dan tidak bisa berhasil, pada saat berhasil tentu itu bukan masalah, akan tetapi seandainya tidak pun kemungkinan besar saya hanya bisa berdo’a agar pihak Kampus member sedikit kelonggaran kepada kami dalam hal membayar uang semester ini atau dengan kata lain memperbolehkan mencicil.
Disisi lain tentu ini menjadi sebuah pelajaran berharga buat kita (yang kuliah atas biaya sendiri) untuk semester-semester selanjutnya, diharapkan untuk semester-semester selanjutnya kita bisa lebih mempersiapkan semuanya lebih awal, agar tidak menjadi beban seperti sekarang ini, walaupun seandainya ternyata akhirnya ada keajaiban sehingga kita bisa keluar dari masalah ini dengan solusi terbaik untuk kita, misalnya pihak kampus mengerti akan kesulitan kita dan memberikan kelonggaran untuk mencicil, tapi tentunya kita harus ingat kalau semua itu adalah “keajaiban” dan tentu sangat kecil kemunkinan terjadi lagi, walaupun bukan hal yang mustahil tapi rasanya tidak baik apabila kita terlalu berharap pada keajaiban.
Solusi diatas adalah murni solusi pribadi, tanpa bermaksud mempengaruhi atau mensehati, dan jujur secara pribadi saya pun tidak bisa menjamin bahwa itu adalah solusi terbaik, saya percaya setiap orang mempunyai cara dan gaya yang berbeda dalam menghadapi masalahnya.
semoga bermanfaat & terimakasih
Read More …

(Oleh Supriatna. Sulaeman)

"Berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian
Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian"
Ungkapan diatas mungkin bukan sebuah ungkapan yang aneh ditelinga kita, sebuah ungkapan yang sangat familier namun memiliki nilai filosopi yang cukup mendalam buat saya terutama dalam konteks mengarungi samudra kehidupan yang syarat dengan ombak-ombak yang terasa semakin kejam.
Banyak diantara kita yang akhirnya hanyut terbawa ombak dan badai yang deras menhujam berbagai sisi lambung kapal yang kita kemudikan, ada pula yang telah dengan tenang dan stabil menghadapi berbagai ombak dan badai bahkan mungkin bagi mereka ombak dan badai itu tidak terlalu terasa mengingat kapal yang mereka kendalikan telah begitu kuat sehingga bisa tetap stabil walaupun diterpa ombak dan badai, dan diantara kelompok yang 2 (dua) tadi terdapat satu kelompok orang dengan perahu kecil tengah berjuang dan bertahan dari gempuran-gempuran ombak & badai yang mengombang-ambingkan perahu mereka kesegala arah.
Sebuah perumpamaan yang mungkin terlalu miris untuk didengar, namun disadari atau tidak itulah fakta yang terjadi dalam kehidupan kita khususnya saya sebagai salah satu mahasiswa, pegawai dan kepala rumah tangga, saya pernah diceritakan sebuah ilustrasi perjalanan 2 (dua) orang dalam mengarungi kehidupan oleh dosen saya, dan saya sangat mengakui cukup menginspirasi saya, "Dikisahkan ada 2 (dua) orang yang sama-sama tengah melakukan perjalanan dengan rute yang sama, sepanjang perjalanan banyak aral dan rintang menghalangi perjalanan kedua insan ini, namun yang membedakan kedua orang ini adalah salah satu diantara mereka telah mengetahui akan berakhir dimana perjalanan itu dari cerita temannya yang telah mengarungi jalan yang sama dan sampai disuatu tempat yang sangat indah, pengalaman ini pun dia ceritakan kepada orang pertama, sehingga membuat orang pertama tertarik untuk melakukan perjalanan tersebut dan menentukan arah dan tujuan dari perjalanan itu, sedangkan orang kedua melakukan perjalanan yang sama dengan rute yang sama akan tetapi orang ini tidak pernah mengetahui akan berakhir dimana perjalanan ini, sepanjang rute perjalanan kedua orang ini merasakan hal yang sama, dilaut mereka berdua dihantam badai dan ombak, didarat mereka menemukan jalan yang terjal dan berliku, hutan dengan binatang buasnya dan segala rintangan yang selalu menghadang mereka, orang yang pertama yang telah mengetahui arah dan tujuan dari perjalanan mereka berdua terlihat begitu tegar menghadapi apapun aral dan rintang yang menghadang, cerita temannya tentang keindahan tempat yang akan dituju seakan menjadi energi (kekuatan) tambahan dalam menghadapi apapun rintangan yang ada, sehingga sekalipun dia terjatuh maka sesaat kemudian dia bangkit terus dan terus melanjutkan perjalanan itu, sedangkan orang kedua yang melakukan perjalanan tanpa arah dan tujuan terlihat begitu sulit untuk menghadapi segala rintangan yang ada, peluh yang mengucur sering dibarengi dengan keluhan demi keluhan, pada saat dia terjatuh tenaganya habis dan hanya bisa meratap menangisi yang terjadi, sehingga mereka yang pada awalnya memulai perjalan bersama-sama akhirnya jauh terpisah, orang yang pertama telah hampir sampai di 75% dari seluruh perjalananya maka orang kedua baru sampai di 30% perjalanan, bahkan cenderung untuk bertahan dan menyerah untuk tidak melanjutkan perjalanan."
Kisah itu menginspirasi saya akan kehidupan, sehingga bisa dibilang sangat beruntung saya kuliah di Universitas BSI Bandung karena akhirnya saya bisa bertemu dengan dosen saya ini dan mendengar sesuatu yang sangat berharga buat hidup saya
Kembali pada kisah diatas, seandainya saya boleh menyimpulkan cerita diatas inilah kesimpulan persi saya:
"Sesungguhnya setiap kita sekarang ini tengah melakukan sebuah perjalanan yang tak pernah kita ketahui secara pasti akan berakhir dimana, mungkin banyak kisah sukses yang pernah kita dengar atau baca tapi apakah itu benar atau bohong? mungkin untuk sekarang ini kita tidak pernah tahu, namun seperti diceritakan diatas terlepas dari itu benar atau bohong ini menjadi penting, karena dengan begitu setidaknya kita bisa menentukan apa sebenarnya tujuan hidup (perjalanan) ini, disadari atau tidak itu bisa menjadi energi tambahan buat kita dalam mengarungi dan menghadapi apapun rintangan didepan, karena walau bagaimanapun perjalanan adalah perjalanan artinya ini bukan akhir (tujuan) yang sebenarnya, tentu akan rugi ketika kita melakukan perjalanan tapi tidak pernah sampai ketempat tujuan, bila diibaratkan mengarungi lautan, tentu kita akan lebih memilih sampai kepulau impian dari pada terus menerus berada dilautan dan diombang-ambing ombak dan badai, mengingat banyak kisah sukses yang kita dengar mungkin akan lebih baik apabila kita bisa menentukan suksek seperti apa yang kita inginkan secara spesifik untuk selanjutnya ikuti jalan dan arah mereka, karena kalau tidak pasti (spesifik) berarti kita sama saja dengan seseorang yang takpernah punya arah dan tujuan, dilautan kita bisa melihat beberapa pulau, tentukan pulau mana yang ingin kita tuju, pastikan arahnya dan fokuslah pada tujuan itu, bahkan mungkin pada saat sama sekali tidak bisa melihat pun akan tetapi kita punya peta dan bisa menentukan kordinatnya yang tentu telah dibuat oleh orang yang sebelumnya telah sampai (sukses) insya allah suatu saat kita pasti sampai pada pulau impian kita.
Hidup selalu memberikan pilihan, dan kita selalu dibebaskan untuk memilih, akan tetapi setiap pilihan pasti ada konsekwensi (harga) nya, namun percayalah mendapatkan sesuatu dengan membeli jauh lebih baik dan memuaskan daripada mendapatkan sesuatu dari pemberian orang apalagi mencuri & merampas nya dari orang lain, jangan pernah berharap dengan tidak memilih kita bisa bebas dari segala resiko karena pada saat kita memutuskan untuk tidak memilih, sesungguhnya pada saat itu kita telah menentukan pilihan dan apa yang akan kita dapat tentu akan sesuai dengan pilihan dan usaha kita.
Sekian dan semoga bisa menjadi sebuah insprirasi...!

Read More …

(Oleh Supriatna. Sulaeman)
Dalam satu kesempatan saya sempat teringat kata-kata dosen saya tentang perubahan jaman yang begitu cepat, dan disaat yang sama kata-kata itu membuat saya termenung dan berpikir sejenak, mungkin seandainya boleh kita ibaratkan perubahan (perjalanan) waktu itu sebagai roda yang terus dan terus berputar maka mau tidak mau kita harus terus mengikuti perubahan itu, karena kalau tidak maka bersiap-siaplah untuk terlindas oleh pergerakan roda jaman tersebut.
Mungkin karena itu pula kampus kita (Universitas BSI Bandung) menggunakan istilah Ciber Kampus sebagai jargonnya, sebagaimana kita ketahui dewasa ini perkembangan tekhnologi begitu pesat berkembang, bahkan diera ini internet menjadi kebutuhan sehari-hari insan modern, akhirnya perangkat-perangkat berbasis internet pun diluncurkan agar bisa memaksimalkan peran internet dalam memenuhi kebutuhan kita dewasa ini.
Universitas BSI Bandung mencoba mengimbangi perkembangan tersebut dengan memproklamirkan diri sebagai Kampus yang berbasis Ciber (internet), bahkan untuk mendukung program ini dalam brosur perekrutan mahasiswa barupun dijelaskan bahwa perkuliahan diwajibkan menggunakan Notebook, Netbook dll, atau dengan kata lain setiap mahasiswa baru yang berniat melanjutkan studi di Universitas BSI Bandung diwajibkan untuk memiliki Notebook dan perangkat sejenis lainnya, dan kebetulan angkatan kami menjadi sasaran dari program tersebut.
Saya sendiri pernah menanyakan hal itu pada saat mendaftar kebagian ADM kampus kami, dan hal itu memang dibenarkan oleh petugas ADM, akan tetapi pada saat itu pihak ADM juga menerangkan bahwa bagi  calon mahasiswa baru yang kemungkinan belum memilikinya untuk sementara boleh mendaftar dan mengikuti kuliah sebagaimana mestinya, saya yang pada saat mendaftar memang sudah memiliki sebuah notebook sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.
Sebulan setelah mendaftarkan diri saya pun mulai mengikuti perkuliahan, dan benar saja pada saat itu saya memperhatikan teman-teman mahasiswa yang lain ternyata tidak semua membawa notebook, tapi perkuliahan sendiri tetap berjalan sebagaimana mestinya, bahkan pada saat itu saya yang selalu membawa notebook pada saat mengikuti kuliah sempat berpikir percuma membawa notebook, karena saya merasa tidak bisa memaksimalkan fungsi notebook yang selalu saya bawa, jalanya perkuliahan sendiri sebenarnya biasa-biasa saja (dosen menerangkan materi melalui slide yang sudah tersedia dan kita sebagai mahasiswa menyimak untuk kemudian bertanya jika ada hal-hal yang kurang dimengerti) walaupun terkadang ada beberapa catatan yang diberikan oleh dosen, tapi untuk hal itu kita cukup mencatatnya pada binder yang telah kita siapkan, sedangkan diakhir biasanya dosen memberikan hard coffy dari materi slide untuk dicoffy ke flashdisk atau dikirim via email mahasiswa sebagai bahan (modul) untuk dibaca & dipelajari dirumah, akan tetapi sekali lagi saya berpikir bahwa hal itu bisa dilakukan siapa saja termasuk mahasiswa yang tidak memiliki notebook.
Tentu saja saya tidak bisa protes akan hal itu, karena saya pikir hal ini cukup fair dan sangat wajar mengingat masih banyak diantara teman-teman saya yang belum memiliki notebook, yang mungkin akan sedikit keberatan apabila dipaksakan untuk membeli notebook.
Beberapa bulan setelah mengikuti perkuliahan akhirnya kami sampai pada moment UTS, dan mulai dari sinilah saya mendapatkan satu pencerahan mengenai fungsi notebook yang diawal sempat diwajibkan kepada seluruh mahasiswa baru, pada saat UTS pihak Universitas mewajibkan semua mahasiswa semester 1 (satu) untuk mengikuti ujian dengan menggunakan notebook atau netbook, sontak saja ini menimbulkan berbagai reaksi dari teman-teman saya yang belum memiliki notebook atau netbook, karena disatu sisi sebenarnya mereka tidak siap atas kebijakan tersebut, tapi disisi lain mereka pun tidak bisa memprotesnya mengingat kebijakan ini memang sudah dicanangkan dari awal sejak mereka mendaftarkan diri sebagai mahasiswa dikampus kami.
Tidak sedikit diantara teman-teman kami cukup bingung dihadapkan pada masalah ini, mengingat UTS adalah hal penting dari bagian kuliah kami dan tidak mungkin dianggap sebagai hal sepele, tapi disisi lain mereka memang tidak siap dan untuk memaksakan mendadak membeli cukup memberatkan bagi mereka, kegalauan dan kebingungan mereka cukup menggugah hati saya, jujur sebagai seorang teman rasanya saya tidak bisa membiarkan mereka dalam kondisi seperti itu, akhirnya saya berusaha menghubungi beberapa teman yang kebetulan memiliki notebook untuk kemudian dipinjamkan kepada teman-teman saya, karena beberapa diantara mereka mengeluhkan hal itu kepada saya bahkan siap menyewa untuk keperluan UTS tersebut.
Pada saat hari pertama mengikuti UTS saya sempat bersyukur karena setelah diperhatikan semua teman-teman setu kelas saya membawa laptop atau netbook, walaupun dengan berbagai latar belakang cerita yang sedikit mengharukan buat saya, pada saat UTS berlangsung sebelum benar-benar menjawab pertanyaan dengan metode online (menggunakan notebook) kami diharuskan mengisinya dalam bentuk OCR terlebih dahulu, baru setelah proses mengisi itu beres kami memindahkan semua jawaban kami kedalam metode online menggunakan notebook yang telah kami sediakan masing-masing, akan tetapi ternyata pada saat kami melakukan proses login untuk mendapatkan halaman jawaban online beberapa teman kami tidak bisa login (masuk) kehalaman tersebut, bahkan belakangan (dihari ketiga UTS) kami mengetahui bahwa kami yangberhasil login (masuk) pun ternyata login (masuk) kehalaman yang salah, karena ternyata kami yang mengambil program S1 malah masuk kehalaman program D3, terus terang hal itu membuat saya tak habis pikir, bagaimana tidak! saya sendiri merasa telah menjalankan semua intruksi yang diberikan pengawas dengan benar, dan pada saat masuk (login) saya pun menemukan data-data yang benar-benar milik saya pada lembar jawaban itu, sehingga saya merasa yakin 100% bahwa itu memang benar dan sesuai prosedur yang telah ditentukan, walaupun sejujurnya diawal dosen pengawas memberikan alamat url yang berbeda pada kami, tapi dialamat url yang pertama itu tidak ada satupun teman saya yang berhasil login, dan pada alamat yang kedualah kami berhasil login.
Hal ini tentu menambah satu lagi catatan kekecewaan pada buku harian kami selama mengikuti perkuliahan dikampus kami, apalagi banyak diantara teman-teman kami yang berjuang dengan segala cara agar bisa mengikuti UTS dengan metode online tersebut, tapi disisi lain kekecewaan kami itu harus kami telan lagi mentah-mentah, karena disatu sisi kami pun mengetahui bahwa metode ini adalah metode baru dikampus kami, jadi sangatlah wajar bila terdapat kekurangan disana-sini.
Akhirnya saya mengambil satu pertanyaan (catatan) saja pada kejadian (kasus) kami diatas "Ketika kami sebagai mahasiswa harus mencoba memahami situasi dan kondisi kesiapan Kampus kami untuk menuju Kampus Ciber, akankah Kampus kami juga mengerti dan memahami situasi dan kondisi kesiapan kami untuk langsung terlibat dalam program Kampus Ciber?"
Sekian dan terimakasih.
Read More …