Kompas Kampus


(Oleh Supriatna. Sulaeman)
Dalam satu kesempatan saya sempat teringat kata-kata dosen saya tentang perubahan jaman yang begitu cepat, dan disaat yang sama kata-kata itu membuat saya termenung dan berpikir sejenak, mungkin seandainya boleh kita ibaratkan perubahan (perjalanan) waktu itu sebagai roda yang terus dan terus berputar maka mau tidak mau kita harus terus mengikuti perubahan itu, karena kalau tidak maka bersiap-siaplah untuk terlindas oleh pergerakan roda jaman tersebut.
Mungkin karena itu pula kampus kita (Universitas BSI Bandung) menggunakan istilah Ciber Kampus sebagai jargonnya, sebagaimana kita ketahui dewasa ini perkembangan tekhnologi begitu pesat berkembang, bahkan diera ini internet menjadi kebutuhan sehari-hari insan modern, akhirnya perangkat-perangkat berbasis internet pun diluncurkan agar bisa memaksimalkan peran internet dalam memenuhi kebutuhan kita dewasa ini.
Universitas BSI Bandung mencoba mengimbangi perkembangan tersebut dengan memproklamirkan diri sebagai Kampus yang berbasis Ciber (internet), bahkan untuk mendukung program ini dalam brosur perekrutan mahasiswa barupun dijelaskan bahwa perkuliahan diwajibkan menggunakan Notebook, Netbook dll, atau dengan kata lain setiap mahasiswa baru yang berniat melanjutkan studi di Universitas BSI Bandung diwajibkan untuk memiliki Notebook dan perangkat sejenis lainnya, dan kebetulan angkatan kami menjadi sasaran dari program tersebut.
Saya sendiri pernah menanyakan hal itu pada saat mendaftar kebagian ADM kampus kami, dan hal itu memang dibenarkan oleh petugas ADM, akan tetapi pada saat itu pihak ADM juga menerangkan bahwa bagi  calon mahasiswa baru yang kemungkinan belum memilikinya untuk sementara boleh mendaftar dan mengikuti kuliah sebagaimana mestinya, saya yang pada saat mendaftar memang sudah memiliki sebuah notebook sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.
Sebulan setelah mendaftarkan diri saya pun mulai mengikuti perkuliahan, dan benar saja pada saat itu saya memperhatikan teman-teman mahasiswa yang lain ternyata tidak semua membawa notebook, tapi perkuliahan sendiri tetap berjalan sebagaimana mestinya, bahkan pada saat itu saya yang selalu membawa notebook pada saat mengikuti kuliah sempat berpikir percuma membawa notebook, karena saya merasa tidak bisa memaksimalkan fungsi notebook yang selalu saya bawa, jalanya perkuliahan sendiri sebenarnya biasa-biasa saja (dosen menerangkan materi melalui slide yang sudah tersedia dan kita sebagai mahasiswa menyimak untuk kemudian bertanya jika ada hal-hal yang kurang dimengerti) walaupun terkadang ada beberapa catatan yang diberikan oleh dosen, tapi untuk hal itu kita cukup mencatatnya pada binder yang telah kita siapkan, sedangkan diakhir biasanya dosen memberikan hard coffy dari materi slide untuk dicoffy ke flashdisk atau dikirim via email mahasiswa sebagai bahan (modul) untuk dibaca & dipelajari dirumah, akan tetapi sekali lagi saya berpikir bahwa hal itu bisa dilakukan siapa saja termasuk mahasiswa yang tidak memiliki notebook.
Tentu saja saya tidak bisa protes akan hal itu, karena saya pikir hal ini cukup fair dan sangat wajar mengingat masih banyak diantara teman-teman saya yang belum memiliki notebook, yang mungkin akan sedikit keberatan apabila dipaksakan untuk membeli notebook.
Beberapa bulan setelah mengikuti perkuliahan akhirnya kami sampai pada moment UTS, dan mulai dari sinilah saya mendapatkan satu pencerahan mengenai fungsi notebook yang diawal sempat diwajibkan kepada seluruh mahasiswa baru, pada saat UTS pihak Universitas mewajibkan semua mahasiswa semester 1 (satu) untuk mengikuti ujian dengan menggunakan notebook atau netbook, sontak saja ini menimbulkan berbagai reaksi dari teman-teman saya yang belum memiliki notebook atau netbook, karena disatu sisi sebenarnya mereka tidak siap atas kebijakan tersebut, tapi disisi lain mereka pun tidak bisa memprotesnya mengingat kebijakan ini memang sudah dicanangkan dari awal sejak mereka mendaftarkan diri sebagai mahasiswa dikampus kami.
Tidak sedikit diantara teman-teman kami cukup bingung dihadapkan pada masalah ini, mengingat UTS adalah hal penting dari bagian kuliah kami dan tidak mungkin dianggap sebagai hal sepele, tapi disisi lain mereka memang tidak siap dan untuk memaksakan mendadak membeli cukup memberatkan bagi mereka, kegalauan dan kebingungan mereka cukup menggugah hati saya, jujur sebagai seorang teman rasanya saya tidak bisa membiarkan mereka dalam kondisi seperti itu, akhirnya saya berusaha menghubungi beberapa teman yang kebetulan memiliki notebook untuk kemudian dipinjamkan kepada teman-teman saya, karena beberapa diantara mereka mengeluhkan hal itu kepada saya bahkan siap menyewa untuk keperluan UTS tersebut.
Pada saat hari pertama mengikuti UTS saya sempat bersyukur karena setelah diperhatikan semua teman-teman setu kelas saya membawa laptop atau netbook, walaupun dengan berbagai latar belakang cerita yang sedikit mengharukan buat saya, pada saat UTS berlangsung sebelum benar-benar menjawab pertanyaan dengan metode online (menggunakan notebook) kami diharuskan mengisinya dalam bentuk OCR terlebih dahulu, baru setelah proses mengisi itu beres kami memindahkan semua jawaban kami kedalam metode online menggunakan notebook yang telah kami sediakan masing-masing, akan tetapi ternyata pada saat kami melakukan proses login untuk mendapatkan halaman jawaban online beberapa teman kami tidak bisa login (masuk) kehalaman tersebut, bahkan belakangan (dihari ketiga UTS) kami mengetahui bahwa kami yangberhasil login (masuk) pun ternyata login (masuk) kehalaman yang salah, karena ternyata kami yang mengambil program S1 malah masuk kehalaman program D3, terus terang hal itu membuat saya tak habis pikir, bagaimana tidak! saya sendiri merasa telah menjalankan semua intruksi yang diberikan pengawas dengan benar, dan pada saat masuk (login) saya pun menemukan data-data yang benar-benar milik saya pada lembar jawaban itu, sehingga saya merasa yakin 100% bahwa itu memang benar dan sesuai prosedur yang telah ditentukan, walaupun sejujurnya diawal dosen pengawas memberikan alamat url yang berbeda pada kami, tapi dialamat url yang pertama itu tidak ada satupun teman saya yang berhasil login, dan pada alamat yang kedualah kami berhasil login.
Hal ini tentu menambah satu lagi catatan kekecewaan pada buku harian kami selama mengikuti perkuliahan dikampus kami, apalagi banyak diantara teman-teman kami yang berjuang dengan segala cara agar bisa mengikuti UTS dengan metode online tersebut, tapi disisi lain kekecewaan kami itu harus kami telan lagi mentah-mentah, karena disatu sisi kami pun mengetahui bahwa metode ini adalah metode baru dikampus kami, jadi sangatlah wajar bila terdapat kekurangan disana-sini.
Akhirnya saya mengambil satu pertanyaan (catatan) saja pada kejadian (kasus) kami diatas "Ketika kami sebagai mahasiswa harus mencoba memahami situasi dan kondisi kesiapan Kampus kami untuk menuju Kampus Ciber, akankah Kampus kami juga mengerti dan memahami situasi dan kondisi kesiapan kami untuk langsung terlibat dalam program Kampus Ciber?"
Sekian dan terimakasih.

Categories:

Leave a Reply