( Oleh : Sandy Muhammad Ma’ruf )
2 minggu telah lewat, namun ingatan saya akan indahnya suasana alam di tempat perkemahan Rancacangkuang belum hilang. Suara gemerincik air, kicauan burung, dan suara khas Tonggeret masih terngiang - ngiang di kepala. Andai saya kemarin memiliki waktu yang banyak, mungkin saya akan berlama – lama disana.
Maklum, saya belum menemukan tempat yang asri dan alami ( hal itu dikarenakan beberapa tempat berkemah saat ini sudah dikelola oleh suatu pihak sehingga unsur alami dari tempat tersebut sudah hilang. ) dan Rancacangkuang adalah salahsatu perkemahan terbaik yang dimiliki Jawa Barat. Sulitnya medan di perjalanan seolah - olah terbayar lunas dengan indahnya alam disana. Suatu lembah yang diapit oleh beberapa bukit, padang rumput yang luas, dan suasana khas kebun teh terhampar luas di tempat yang bisa dibilang tidak terlalu dingin untuk ukuran daerah dataran tinggi. Saya pun aneh, kenapa daerah tinggi seperti disana bisa dibilang cukup gerah dan sesampainya disana, spontan saya langsung menanggalkan baju saya (tapi celana tidak). Apakah ada pengaruhnya dengan Global Warming?? Entahlah.. namun ada beberapa hal yang saya sayangkan dari pengalaman kemarin, yaitu akses jalan yang sangat berbahaya apalagi jika turun hujan dan sikap manusia yang seolah olah tidak menjaga lingkungan setelah berkemah. Sampah bertebaran dimana mana, dan banyak tulisan yang mengotori pohon dan batu. Andai saja sikap manusia tidak seperti itu, saya yakin tempat ini akan lebih asri. Oh iya, satu lagi saya harap Pemerintah setempat bisa memanfaatkan potensi yang ada, akses jalan yang baik dan promosi sangat dibutuhkan guna mengangkat potensi yang dimiliki Rancacangkuang.
Namun, dibalik kekurangannya tidak menyurutkan keingintahuan saya untuk mengeksplor lebih dalam Rancacangkuang. Maklum, saat pengalaman kemarin hujan mengguyur sepanjang hari. Dan suatu saat, saya pasti kembali kesana.
Categories:
KATA SANDI